Langsung ke konten utama

Kenapa Trump menang hari ini dan akan menang besok dan seterusnya (Part 1)

Akhir-akhir ini sering dapet pertanyaan, "Ndi, kenapa sih Trump bisa menang? kok bisa orang rasis dan kasar kayak Trump bisa menang di Amerika? Kenapa orang Amerika bego-bego ya?"

Karena itulah tulisan ini dibuat, jadi kalau ada yang nanya lagi, gue akan kasih link nya aja. First, orang Amerika ga bego, mereka salah satu negara tercerdas di dunia, so Trump win for a reason. Second, sejarah nya panjang, kita akan balik lagi sampai ke awal kemenangan Obama 2008 - Arab Spring 2010 - Kebangkitan ISIS - Brexit 2016 dan Trump 2017

Saya mencoba menyatukan potongan puzzle ini hingga jadi suatu cerita yang utuh dengan pengetahuan politik ala-ala. "Connecting the dots" kalo kata Steve Jobs


Obama - Kemenangan dunia liberal

Hasil gambar untuk Obama basket


Untuk mensimplifikasi masalah, ada dua kekuatan politik yang sangat kuat dan berpengaruh di dunia. Konsevatif & Liberal, kalau di Amerika diwakili oleh persaingan partai Republik dan Demokrat. Dua kubu ini punya weighted point yang berbeda. Demokrat cenderung liberal, bisa dibilang ini seperti kubu yang mendorong percepatan perubahan, pasar bebas dan terbuka misalnya. Tapi juga membawa ekses negatif untuk kalangan konservatif, seperti LGBT dan sekuler. Republik cenderung konservatif, kubu yang coba bertahan di status quo selama mungkin. Seperti fokus lapangan kerja untuk pribumi dan fokus ke kemanan dalam negeri, ekses negatif ke pendukung liberal untuk kebijakan anti imigran.


In-fact, pada ranah politik praktis, pro's dan con's nya ga jadi seterang ini. Banyak orang yang mengaku sebagai liberal tapi juga menolak aborsi dan LGBT, banyak juga yang mendukung konservatif tapi support pasar bebas. Jadi di level praktis, bisa sangat fluid.

Kemenangan Obama jadi simbol kemengan besar untuk Liberal, bukan hanya di Amerika, tapi juga di dunia. Kenapa? karena Obama adalah representasi nyata dari liberal, Minoritas (african-american) pertama yang jadi presiden USA, FYI, ratusan tahun sebelumnya, african - american adalah budak yang dilegalkan secara konstitusi di Amerika. Tanpa liberal dan demokrasi, orang seperti Obama ga akan pernah jadi presiden USA. "Siapapun bisa menjadi apapun" hari itu sudah dibuktikan seutuhnya ketika Obama dilantik menjadi presiden, Liberal menang hari itu. Sebaliknya, buat kalangan radikal kanan (alt-right, KKK, white supremacy), ini seperti diludahin di muka. Kaum yang dulu jadi budak mereka, sekarang gantian jadi presiden :D

Setelah dilantik menjadi presiden, Obama membentuk kubu "Free World" dengan beberapa pemimpin dunia, yang paling kuat dan menonjol adalah Angela Markel di Eropa, Berdua mereka coba menyelesaikan masalah-masalah di dunia dengan membawa pesan liberal ke seluruh dunia, dimulai dari yang paling tidak liberal, Middle East










Arab Spring - Kebangkitan (kehancuran) dunia Arab


Hasil gambar untuk Arab Spring


Keberhasilan Obama menyebar luas di Social Media, keberhasilan seorang african american menjadi presiden Amerika mengguncang tanah Arab, kalau Obama Bisa, kenapa kita tidak? slogan Obama, "Change" bertahap mulai menggerakan roda penggulingan pemimpin-pemimpin dunia Arab. Inilah yang dinamakan dengan Arab spring atau musim semi dunia Arab

Di Arab, tidak semua orang bisa menjadi apa saja, khususnya jika anda bermimpi menjadi Presiden, kubur saja mimpi itu dalam-dalam. Tabel dibawah ini sepertinya bisa sedikit menjelaskan. Bisa dilihat dibawah kalau pemimpin dunia arab itu; 1) sekali jadi, pasti lama. Baru akan turun ketika mati, atau ada kudeta. 2) Kepemimpinan digariskan melalui keturunan (monarki)

Urutan negara yang mengalami Arab Spring - Nama Pemimpin - lama  menjabat sampai terjadi arab spring - status saat ini:
1. Tunisia - Ben Ali - 24 tahun - terguling dan kabur ke Arab Saudi
2.  Libya - Moamar Gadafi - 42 tahun - terguling dan terbunuh
3. Aljazair - Abdelaziz Bouteflika - 18 tahun - masih berkuasa dan protes dihentikan
4. Lebanon - Michel Sulaiman - 6 tahun - protes dihentikan 
5. Yordania - Sameer Al Rifai - 2 tahun - diturunkan dan digantikan keluarga kerajaan
6. Sudan - Omar Hasan al Bashir - 22 tahun - bertahan
7.  Oman - Sultan Qaboos - 40 tahun - bertahan
8. Arab Saudi - King Abdullah - 3 years - bertahan
9. Mesir - Hosni Mobarak - 30 tahun - pemerintahan jatuh dan masuk penjara
10. Maroko - Mohammad VI - 10 tahun - bertahan
11. Yaman - Abdulah Saleh - 22 tahun - pemerintahan jatuh, kabur keluar negri, civil war
12. Irak - Pemerintahan transisi hancur - Civil War, sebagian negara jatuh ke tangan ISIS
13. Suriah - Bashar Al-asad - 10 tahun - Civil War, sebagian negara jatuh ke tangan ISIS


Bisa dibilang Arab Spring adalah pergerakan revolusi pertama yang digerakkan oleh Social Media, informasi terkait dengan pergerakan, titik kumpul protes, informasi terbaru, semuanya disampaikan melalui social media. Alih-alih mendengarkan aspirasi, pemimpin dunia arab justru malah mem-block social media. Mesir, Libya, Syria, Tunisia, Saudi Arabia dan Bahrain tercatat melakukan pemblokiran Socmed ketika Arab Spring.

Selain itu, yang memperkuat proses Arab Spring adalah tingginya populasi remaja (<35 tahun). Ketika populasi remaja sudah melampui populasi dewasa (>35 tahun), kemungkinan terjadinya civil war sangat tinggi. Negara-negara seperti Egypt, Syria, Libya, Yaman dan Iran memiliki populasi remaja yang melampaui dewasa. Teori ini dipublikasikan oleh seorang former air force data scientist USA, Sam Harris. Bisa dibilang, Sam Harris dan tim data science USAF adalah yang pertama meramalkan terjadinya Arab Spring

Dibawah in contoh piramida penduduk Mesir, salah satu negara yang mengalami civil war pada masa Arab Spring, dibawah, terlihat populasi remajanya sangat tinggi

Hasil gambar untuk egypt population pyramid

Sekarang sudah jelas, tingginya populasi teenager + social media = civil war.

Indonesia? damn we're that close!!

Hasil gambar untuk indonesia piramida penduduk 









ISIS - the devil of Arab world

Revolusi selalu menghadirkan harapan untuk perubahan. Sayangnya, berpikir kalau hanya mereka yang idealis mengambil kesempatan justru sangat utopis. Arab Spring justru jadi ladang untuk ISIS yang pada saat itu masih ABG untuk unjuk gigi. Vakumnya kemimpinan pada saat Arab Spring seperti memberi pupuk kepada radikalisme. Mesir dan Tunisia membubarkan sistem keamanan yang mengontrol pergerakan radikal, dan membebaskan banyak tahanan teroris pada saat Arab Spring. Di Libya, pemerintah benar-benar kehilangan kontrol di beberapa belahan negara yang nantinya menjadi basis pergerakan radikal.



Menunjuk ISIS sebagai satu-satunya radikal yang memanfaatkan momentum Arab Spring tentunya hanyalah sebuah kenaifan belaka, Jabat Al-Nusra, Al-Qaeda, Hezbolah, Kurdistan dan masih banyak yang lain juga ikut bermain, belum lagi kalau kita menghitung beberapa negara yang terjun langsung seperti Rusia, Amerika, Turki, Arab Saudi dan Yordan. Semuanya mengambil kesempatan Arab Spring untuk memperbesar pergerakan mereka atau mendapatkan keuntungan dari melemahnya saingan dan lawan politik mereka. Tanah arab, khususnya Syria, berubah menjadi wild-wild west dengan cepat. Video dari Fox "Syria, who fight who?" ini gambaran yang cukup simpel tentang situasi di Syria. Terlalu banyak pihak yang ikut memperebutkan kekuasaan hingga bahkan mereka yang bertarung disana tidak tau siapa teman, siapa lawan dan untuk apa mereka bertempur. Syria was definetely, hell on earth



Kekacauan dunia Arab ini menyebabkan tingginya Imigran ke Eropa, sesuai dengan hukum alam, perpindahan manusia dari tempat yang tidak aman ke tempat yang lebih aman tidak akan terelakkan. Jumlah imigran Arab saat ini sudah mencapai 1 juta orang sejak krisis di middle east dimulai 10 tahun yang lalu. Pertanyaannya kenapa Imigran memilih menyebrang ke utara hingga Eropa daripada ke timur atau selatan ke negara-negara middle east yang lain yang serumpun dan lebih aman?  In simple words, negara-negara timur tengah tidak pernah benar-benar damai, perbedaan geopolitik sejak berabad-abad silam selalu ada, Konflik Sunni-Syiah, perbedaan Mahzab, perbedaan kultur (persia - arab), perbedaan tribe dan clan (bani saud, bani hisyam dll) seperti bara dalam sekam. Tidak pernah terselesaikan

Tentu tidak semua imigran berhasil menyebrang ke Eropa, sebagian besar lainnya mati dalam prosesnya, kedinginan, kelaparan dan tenggelam adalah alasan utamanya (may peace be upon them). Jumlah Imigran yang sangat banyak di Eropa, selain menyebabkan culture shock, juga menyebabkan masalah keamanan. Posisi ISIS yang makin terjepit  di timur tengah, yang tadinya seluas setengah Syria dan sebagian Irak, menjadi hanya 2 kota besar saja, Mosul dan Raka. Itupun semakin hari semakin mengecil karena mendapat gempuran dari dua kubu yang berbeda, Bashar dengan bantuan Rusia dan Amerika dengan bantuan NATO. Hal ini membuat mereka mengganti strategi, dari yang tadinya berniat membuat negara islam yang independen, jadi "burn the hell everything". Seperti terinspirasi dari Katniss Everdeen, if we burn, you burn with us.




ISIS memerintahkan banyak tentara simpatisan untuk membubarkan pos-pos yang tidak bisa dipertahankan lagi, dan ikut membaur dengan Imigran. "Serang mereka dari dalam" adalah salah satu perintah Abu Bakar Al-Baghdadi yang paling terkenal sejak terakhir kemunculannya. Paris, Brussels, Stockholm, London, Berlin, Nourmandy satu-satu mulai merasakan peliknya teror. Dari Bom Mobil sampai Bus yang menubruk kerumunan. Dari teroris yang memiliki pengalaman tempur segudang di middle east, hingga Lone Wolf. Negeri-negri yang sejuk dan damai bernama Eropa itu kini mulai terbakar dari dalam.











Brexit - Ketika mulai terpecahnya Eropa



Krisis keamanan di Eropa makin lama makin membuat native european people bertanya, apakah kita melakukan hal yang benar? Yes, kita memang berbuat baik, tapi apakah ini sepadan dengan keamanan kita yang hilang?

Akhirnya munculah suara-suara yang menyerukan anti imigran, dan inilah keberhasilan ISIS pertama di tanah eropa. Menanamkan kebencian. Suara ini makin lama makin membesar,hingga akhirnya diputuskan untuk dibentuk refrendum. In fact, refrendum bukan hanya jadi isu imigran saja, tapi banyak juga dari segi ekonomi, banyak warga UK merasa UK lebih banyak memberi daripada mendapatkan sesuatu dari EU. Karena UK adalah bagian dari EU, UK tidak bisa menerapkan kebijakan imigrasi sendiri. Lantas dibentuklah refrendum keluarnya UK dari Brexit. Untuk memperkuat posisinya, kubu Brexit mulai menanamkan banyak sentimen lain selain imigrasi, seperti hilangnya lapangan pekerjaan karena imigran, besarnya iuran UK untuk EU tanpa hasil yang setimpal dan banyak hal lainnya.

At first, Brexit terlihat bodoh. Bagaimana mungkin negara penyokong EU terbesar kedua, yang jadi the biggest financial hub terbesar di Eropa memutuskan keluar dari EU? UK gonna lose everything. Jika UK memutuskan untuk ikut pasar tunggal EU, UK harus menghormati 4 pilar EU lainnya yakni kebebasan pergerakan orang, barang, jasa dan modal, yang which is ga mungkin. UK should leave, with all bad things included. Beberapa survey sebelumnya juga menunjukkan dukungan terhadap Brexit lebih kecil daripada yang memutuskan stay, hal ini sampai membuat PM Inggris, David Cameron sesumbar akan resign jika Brexit menang.



And yes, seperti yang kita tahu, brexit menang. Somehow UK ternyata bukan cuma London. Kalau di lihat di peta, kebanyakan warga London memilih stay. Kenapa? karena yang paling mungkin merasakan manfaat dari EU cuma London, semua financial hub ada disana, warga ningrat kelas atas tentu mengerti pentingnya EU untuk UK. yang lain? mungkin masih tidak mengerti kenapa UK harus stay di EU sementara selama ini kehidupan mereka tidak menjadi lebih baik. yang unik di skotlandia, yang mayoritas memilih stay, juga muncul wacana untuk refrendum keluar dari UK. entahlah kapan perseturuan ini berakhir



Lalu kenapa suara yang keluar pada saat survey sebelum refrendum lebih banyak yang memilih stay dibandingkan dengan leave? Brexit adalah awal dari apa yang akhirnya kita sebut dengan "Minority Noise" dan "Majority Silent".

Minority noise artinya jumlah orang nya sedikit, tapi suaranya berpengaruh dan terdengar luas. Majority silent kebalikannya, pendukungnya banyak, tapi lebih memilih diam. Kenapa? salah satunya karena social media. Social media telah merubah struktur komunikasi komunal kita, yang sebelumnya suara-suara berpengaruh hanya terdengar dari sedikit individu, sekarang siapapun bisa menjadi influencer.

Pada saat Brexit, banyak influencer (yang mayoritas dari London) menyuarakan tentang pentingnya Britis untuk stay di EU, influencer ini datang dari kalangan politisi, pengamat hingga artis. Yang jadi masalah, banyak pendukung stay ini bukan hanya menyampaikan pemikirannya, tapi juga mocking - atau mengejek, seolah-olah yang memilih sebaliknya adalah warga kelas dua dan tidak berpendidikan.

Semua aksi menimbulkan reaksi, Hal ini menyebabkan banyak kalangan yang mendukung leave, jadi menyembunyikan suaranya, ketika survey, atau ditanya orang, mereka akan menjawab stay. Tentu supaya tidak terlihat jelek. Tapi dalam hati, justru memperkuat pilhan mereka. Revenge adalah reaksi pertama yang timbul ketika mereka diejek. Post survey brexit membuktikan, warga yang memilih stay sangat yakin dengan pilihan mereka, dan salah satu alasannya adalah untuk balas dendam

Sebagian besar yang memilih leave menjawab, selain karena memang tidak setuju dengan kebijakan imigran dan ekonomi EU, refrendum ini adalah salah satu kesempatan untuk balas dendam kepada mereka-mereka yang duduk di baris depan (front row). Selama bertahun-tahun, hanya mereka yang mendapatkan porsi ekonomi besar dari pertumbuhan ekonomi UK, sedangkan mereka yang tertinggal (left behind), tidak merasakan manfaat dari EU, selain kampung-kampung dan desa-desa cantik mereka yang semakin dijejali imigran dan turis asing.







Bersambung di Part 2 ya, abang lelah. bikin segini aja seminggu...















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman tes kerja. Nestle, Kraft, Bank Commonwealth, Coca-cola Amatil dan LINE

It's been a while since my last post in this blog... Padahal banyak banget tulisan yang masih di draft dan belom rampung, seperti "US Government Shutdown" (Sampe shutdwon nya kelar tulisannya belom kelar juga T.T), "Perang dan kerajaan bernama Lockheed Martin", "Arsenal dan mimpi bersama Ozil" (bentar lagi udah mau tengah musim malah belom selesai...) dan tulisan-tulisan lainnya yang masih tersimpan rapi di dalam draft. Sibuk mencari dan tes-tes kerja sih, maklum fresh graduate :D FYI, hampir di semua perusahaan gue apply nya yang bagian MT atau Management Trainee. MT itu strata tertinggi dalam jalur penerimaan perusahaan, karena emang disiapin buat jadi future leader. diaharapkan dalam waktu 3-7 tahun udah bisa jadi manager. MT pasti jelas dapat banyak privilege yang ga didapet sama karyawan biasa, seperti karir yang lebih cepet, tutor langsung ke board of director dll. Tapi ya karena posisi ini bergengsi, jadi siap-siap untuk bersaing sama lulusa

Anatomi teroris di Indonesia

"Turut berduka untuk semua korban teroris hari ini, karena mereka yang hilang, tak mungkin tergantikan" Oke, tiba-tiba JAD dapet panggung dan semua orang langsung bertanya-tanya, JAD siapa sih? kok pola terorisme sepertinya berubah ya? Emang ISIS ada di Indonesia? ISIS buka cabang kayak ayam geprek apa gimana? Gue sesungguhnya cuma pengamat saja, gue coba men-summarize sedikit anatomi teroris di Indonesia yang paling latest Pemain: Jamaah Islamiyah (JI) - lulusan Afghanistan Jamaah Ansarut Daulah (JAD) - lulusan Syria JI ini pemain lama, dulu sempet gede di Indonesia era 2000an. Serangan iconic paling besar waktu bom Bali, bom bali 1 dan bom bali 2, JW marriot.  JAD ini new comers, dibentuk banyak lulusan ISIS yang balik kampung ke Indonesia, yes banyak anggotanya yang lulusan Syria. Prison riot di rutan mako brimob, bom gereja di surabaya ini dua2nya confirm aksi JAD Kiblat: JI: Al-Qaeda JAD: ISIS JI bisa dibilang masih ada jaringan st